titient07's blog

Just another weblog

Waspada ANEMIA

Author: TITIEN DWI ARIYANTI TITIEN DWI ARIYANTI
10 22nd, 2010

Anemia di definisikan sebagai penurunan volume/jumlah sel darah merah (eritrosit) dalam darah atau penurunan kadar hemoglobin sampai dibawah rentang nilai yang erlaku untuk orang sehat (Hb<10 g/dL), sehingga terjadi penurunan kemampuan darah untuk menyalurkan oksigen ke jaringan. Dengan demikian anemia bukanlah suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubanah patofisiologis yang diuraikan dalam anamnesa, pemeriksaan fisik yang diteliti serta pemeriksaan laboratorium yang menunjang. Manifestasi klinik timbul tergantung pada:

1. Kecepatan timbulnya anemia

2. umur individu

3. Mekanisme kompensasi tubuh

Seperti: peningkatan curah jantung dan pernapasan, meningkatkan pelepasan oksigen oleh hemoglobin, mengembangkan volume plasma, redistribusi aliran darah ke organ-organ vital.

4. tingkat aktivitas

5. Keadaan penyakit yang mendasari

6. Parahnya anemia tersebut

Anemia aplastik adalah gangguan hematopoesis yang ditandai oleh penurunan produksi eritroid, myeloid dan megakariosit dalam sumsum tulang dengan akibatnya adanya pansitopenia pada darah tepi, serta tidak dijumpai adanya keganasan sistem hemopoid atau kanker metatastik yang menekan sumsum tulang. Aplasia ini dapat terjadi pada satu, dua, atau tiga sistem hematopoesis. Aplasia yang hanya mengenai sistem eritropoetik disebut anemia hipoplastik (eritroblastopenia), yang hanya mengenai sitem granulopoetik disebut agranuloitosis, sedangkan yang hanya mengenai sistem megakariosit disebut purpura trombositopenik amegakariositik (PTA). Apabila mengenai ketiga sistem tersebut disebut anemia aplastik (Sadikin 2002).

Menurut The international Agranolositosis and Aplastic Anemia Study (IAAS) disebut bahwa anemia aplastik apabila kadar hemoglobin ≤ 10 g/dl atau hematokrit ≤ 30, trombosit ≤ 50.000.m3, leukosit  ≤ 3500/m3 atau granulosit ≤ 15×109/l.

Etiologi

Secara etiologi, penyakit ini dapat dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu:

  1. Faktor kongenital/anemia aplastik yang diturunkan

Sindroma Fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti mikrosefali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal, dan sebagainya.

  1. Faktor didapat

Sebagian anemia aplastik didapat bersifat idiopatik, sebagian lainnya dihubungkan

Dengan:

-Bahan kimia: benzene, insektida

-Obat: kloramfenikol, anti rematik, anti tiroid, mesantoin (antikonvulsan sitostatika)

-Infeksi: hepatitis, tuberculosis milier

-Radiasi: radioaktif, sinar rontgen

Patofisiologi

Walaupun banyak penelitian yang telah dilakukan hingga saat ini, patofisiologi anemia aplastik belum diketahui secara pasti. Terdapat 3 teori yang dapat menerangkan patofisiologi penyakit ini, yaitu:

  1. Kerusakan sel induk hematopoetik.
  2. Kerusakan lingkungan mikro sumsum tulang.
  3. Proses imunologik yang menekan hematopoesis.

Keberadaan sel induk hematopoetik dapat diketahui lewat petanda sel yaitu CD 34, atau dengan biakan sel.

Manifestasi Klinis

  1. Lemah dan mudah lelah
  2. Granulositopenia dan leukositopenia menyebabkan lebih mudah terkena infeksi bakteri
  3. Trombositopenia menimbulkan perdarahan mukosa dan kulit
  4. Pucat
  5. Pusing
  6. Anoreksia
  7. Peningkatan tekanan sistolik
  8. Takikardia
  9. Penurunan pengisian kapler
  10. Sesak
  11. Demam
  12. Purpura
  13. Petekie
  14. Hepatosplenomegali
  15. Limfadenopati
    (Tierney,dkk.2003.Hal:95)
    Anemia (pucat)
    · Akibat retikulositopenia : kadar Hb,Ht dan eritrosit rendah
    · Akibat anemia : anoreksia, pusing.
    Aplasia granulopesis
    Granulositopenia, leucopenia
    Panas (demam)
    · Panas terjadi karena infeksi sekunder akibat granulositopenia.
    Aplasia trombopoetik
    Trombositopenia
    Diatesis hemoragi
    · Perdarahan dapat berupa ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi.
    Relatif aktif limfopoesis
    Limfositosisa
    –· Limfositosis biasanya tidak lebih dari 80%

Penatalaksanaan
a. Implikasi keperawatan
· Pencegahan infeksi silang
· Istirahat untuk mencegah perdarahan, terutama perdarahan otak
· Tempatkan anak pada posisi terlentang untuk meningkatkan sirkulasi serebral
· Pertahankan suhu tubuh dengan memberikan selimut dan mengatur suhu ruangan

· Berikan dukungan emosional kepada orang tua dan anak

· Berikan pendidikan kesehatan yang dibutuhkan orang tua dan anak Berikan informasi adekuat mengenai keadaan, pengobatan dan kemajuan kesehatan anak serta bimbingan untuk perawatan dirumah.
(Pillitteri.2002.Hal:246)

Tindakan Kolaborasi

  1. Medikamentosa :
    Prednisolon (kortikosteroid) dosis 2 – 5 mg/kgBB/hari per oral ; testoteron dengan dosis 1 – 2 mg/kgBB/hari secara parenteral ; testoteron diganti dengan oksimetolon yang mempunyai dayaanabolic dan merangsang system hemopoetik lebih kuat, dosis diberikan 1 – 2 mg/kgBB/hari peroral. (Ngastiyah.1997.Hal:364)

Untuk pasien dengan neutropenia sebagai abnormalitas dominant, efektif diberikan myeloidgrowth factors G-CSF (filgastrim) dengan dosis 5µg/kg/hari atau GM-CSF (sargramostim)dengan dosis 250 µg/m2/hari untuk meningkatkan angka neutrofil dan menurunkan infeksi.(Tierney.2003.Hal:96)

  1. Transfusi darah : diberikan jika diperlukan saja karena pemberian transfusi darah terlampau sering akan menimbulkan depresi sumsum tulang atau akan menimbulkan reaksi hemolitik sebagai akibat dibentuknya antibodi terhadap sel – sel darah tersebut.
  2. Pengobatan terhadap infeksi sekunder

Untuk mencegah infeksi sebaiknya anak diisolasi dalam ruangan yang steril. Pemberian obat antbiotika dipilih yang tidak menyebabkan depresi sumsum tulang. Kloramfenikol tidak bolehdiberikan.

· Makanan : umumnya diberikan dalam bentuk lunak. Jika harus menggunakan NGT harus hati-hati karena dapat menimbulkan luka / perdarahan pada waktu pemasangan.
(Ngastiyah.1997.Hal:365)

  1. Transplantasi sumsum tulang : sumsum tulang diambil dari donor dengan beberapa kali pungsi hingga mendapatkan sedikitnya 5 x 108 sel berinti / kgBB resipien. Keberhasilan pencangkokan terjadi dalam waktu 2 hingga 3 minggu.

Konsep dasar Asuhan Keperawatan Anemia Aplastik

  1. Pengkajian
    1. Aktivitas / Istirahat
      · Keletihan, kelemahan otot, malaise umum
      · Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak
      · Takikardia, takipnea ; dipsnea pada saat beraktivitas atau istirahat
      · Letargi, menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya
      · Ataksia, tubuh tidak tegak
      · Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda – tanda lain yang menunjukkan keletihan
    2. Sirkulasi
      · Riwayat kehilangan darah kronis, mis : perdarahan GI
      · Palpitasi (takikardia kompensasi)
      · Hipotensi postural
      · Disritmia : abnormalitas EKG mis : depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T· Bunyi jantung murmur sistolik

· Ekstremitas : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjungtiva, mulut, faring, bibir) dan

dasar kuku
· Sclera biru atau putih seperti mutiara
· Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokonsriksi kompensasi)
· Kuku mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia)
· Rambut kering, mudah putus, menipis

  1. Integritas Ego
    · Keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan mis transfusi darah
    · Depresi
  2. Eliminasi

· Riwayat pielonefritis, gagal ginjal
· Flatulen, sindrom malabsorpsi
· Hematemesis, feses dengan darah segar, melena
· Diare atau konstipasi
· Penurunan haluaran urine
· Distensi abdomen

  1. Makanan / cairan
    · Penurunan masukan diet
    · Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring)
    · Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia
    · Adanya penurunan berat badan
    · Membrane mukusa kering,pucat
    · Turgor kulit buruk, kering, tidak elastis
    · Stomatitis
    · Inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah
  2. Neurosensori
    · Sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidakmampuan berkonsentrasi
    · Insomnia, penurunan penglihatan dan bayangan pada mata
    · Kelemahan, keseimbangan buruk, parestesia tangan / kaki
    · Peka rangsang, gelisah, depresi, apatis
    · Tidak mampu berespon lambat dan dangkal

· Epistaksis

· Gangguan koordinasi, ataksia

  1. Nyeri/kenyamanan

· Nyeri abdomen samar, sakit kepalah. Pernapasan

· Napas pendek pada istirahat dan aktivitas

· Takipnea, ortopnea dan dispneai. Keamanan

· Riwayat terpajan terhadap bahan kimia mis : benzene, insektisida, fenilbutazon, naftalen
· Tidak toleran terhadap dingin dan / atau panas

· Transfusi darah sebelumnya

· Gangguan penglihatan

· Penyembuhan luka buruk, sering infeksi

· Demam rendah, menggigil, berkeringat malam

· Limfadenopati umum

· Petekie dan ekimosis

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Perubahan perusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel.
    2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah (SDM) normal.
    3. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan.
    4. Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan
    5. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh sekunder leucopenia, penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan).

Diet

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah (SDM) normal.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam anak mampu mempertahankan berat badan yang stabil
Kriteria hasil :
· Asupan nutrisi adekuat
· Berat badan normal
· Nilai laboratorium dalam batas normal :
Albumin : 4 – 5,8 g/dL
Hb : 11 – 16 g/dL
Ht : 31 – 43 %
Trombosit : 150.000 – 400.000 µL
Eritrosit : 3,8 – 5,5 x 1012
Intervensi :

1) Observasi dan catat masukan makanan anak.
untuk mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.
2) Berikan makanan sedikit dan frekuensi sering. Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan asupan nutrisi.
3) Observasi mual / muntah, flatus.
gejala GI menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.
4) Bantu anak melakukan oral higiene, gunakan sikat gigi yang halus dan lakukan penyikatan yang lembut. Meningkatkan napsu makan dan pemasukan oral. Menurunkan pertumbuhan bakteri,meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut diperlukan bila jaringan

rapuh/luak/perdarahan.
5) Observasi pemeriksaan laboratorium : Hb, Ht, Eritrosit, Trombosit, Albumin. Untuk mengetahui efektivitas program pengobatan, mengetahui sumber diet nutrisi yang dibutuhkan.
6) Berikan diet halus rendah serat, hindari makanan pedas atau terlalu asam sesuai indikasi. Bila ada lesi oral, nyeri membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi anak.
7) Berikan suplemen nutrisi misalnya : ensure, Isocal. Untuk meningkatkan masukan protein dan kalori.
Hasil konsultasi gizi

Pertanyaan:

Saya Mutia, usia 21 tahun, akhir-akhir ini saya merasa sangat lemas, pusing, dan susah tidur. Keadaan susah tidur membuat saya menjadi semakin tidak bertenaga. Selain itu, saya sering merasa otot-otot saya mudah lelah. Gejala ini mulai saya rasakan sejak mengkonsumsi obat anti rematik 2 tahun terakhir. Berdasarkan hasil laboratorium kadar Hb saya sedikit rendah yaitu sekitar 8 g/dL. hasil diagnosis dokter, menyatakan bahwa saya mengidap penyakit anemia aplastik. Makanan apa yang sebaiknya saya konsumsi untuk mengurangi resikonya?

Jawaban:

Ibu Mutia, gejala umum anemia memang mudah lemas, pusing dan susah tidur. Selain itu juga, nafsu makanan menurun atau biasa disebut dengan anorexia, tekanan darah sistolik meningkat dan lain sebagainya. Anemia itu dapat disebabkan oleh banyak hal. Tidak hanya disebabkan oleh kurangnya kadar hemoglobin dalam darah. Oleh karena itu, harus dilihat lebih jauh, penyebab kadar hemoglobin menjadi menurun.

Konsumsi jenis obat-obat tertentu seperti obat kloramfenikol, anti rematik, anti tiroid, mesantoin (antikonvulsan sitostatika), dapat menjadi salah satu penyebab anemia jenis aplastik. Selain itu, anemia aplastik disertai dengan terjadinya perdarahan. Sehingga tidak jarang gusi penderita mudah berdarah.

Hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah mengatasi gejala anoreksia yang disertai dengan rasa mual dan mulut perih sehingga nafsu makan menurun drastis. Apabila asupan zat gizi kurang, maka ini akan mengakibatkan kurang optimalnya pembentukan sel-sel darah merah dalam sumsum tulang. Salah satu caranya yaitu dengan istirahat yang cukup. Selain itu, makanan yang dikonsumsi sebaiknya dalam bentuk lunak dan cair agar makanan mudah diterima dan dicerna. Tetap mengkonsumsi makanan sumber zat besi heme dan non heme seperti telur, daging, sayu-sayuran, buah-buahan. Akan tetapi pengolahannya harus di perhatikan agar memudahkan ibu menerima makanan tersebut. Hal lain juga penting yaitu meningkatkan dan mengontrol kadar Hb tetap dalam batas normal yaitu 11-16 g/dL.

Daftar Pustaka

1.   Sadikin Muhamad, 2002, Biokimia Darah, widia medika, jakarta

2.   http://www.majalah-farmacia.com

3.   http://www.pediatrik.com

4.   Sylvia A. Price Lorraine M. Wilson, 2002, Patofisiologi, Jilid1, EGC, Jakarta

Anemia plastik merupakan istilah medis untuk menandakan kondisi di mana sumsum tulang gagal menghasilkan sel-sel darah baru yang memadai. sumsum tulang adalah bertanggung jawab untuk pembentukan sel-sel induk, yang pada gilirannya berkembang menjadi sel-sel darah. Jadi, kegagalan sumsum tulang untuk membentuk sel-sel hasil darah dalam jumlah yang rendah dari semua tiga jenis sel darah, yaitu sel darah merah, sel darah putih dan trombosit baru. Semua tiga jenis sel darah memiliki umur yang terbatas dan sehingga kerugian terus-menerus harus diisi oleh produksi sel darah baru. Perbedaan utama antara anemia dan anemia aplastik, adalah bahwa anemia yang rendah adalah sel darah merah dalam darah, sedangkan anemia aplastik menandakan jumlah yang rendah dari semua tiga jenis sel darah.

Penyebab
Banyak faktor yang dapat mengganggu sumsum tulang dan sel-sel batang dan menyebabkan anemia aplastik. Dalam banyak kasus, hal ini bisa menjadi gangguan autoimun, dimana sistem kekebalan tubuh menyerang sumsum tulang atau sel batang. Kadang-kadang, obat-obatan tertentu seperti kloramfenikol, carbamazepine, felbamate, fenitoin, kina, dan fenilbutazon juga dapat memicu penyakit.
Selain itu, kontak berlebihan terhadap beberapa zat beracun seperti arsenik, benzene, pestisida, insektisida dan bahan radioaktif juga bisa menyebabkan anemia aplastik. Selain kata di atas faktor, beberapa terapi, seperti kemoterapi dan terapi radiasi yang digunakan dalam pengobatan kanker untuk menghancurkan sel-sel kanker dari tubuh, juga dapat menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang. Bahkan infeksi virus seperti hepatitis dan HIV, dapat mempengaruhi sumsum tulang dan menyebabkan anemia aplastik. Dalam banyak kasus, kanker yang menyebar ke sumsum tulang dari bagian lain dari tubuh, bisa menjadi faktor utama untuk menyebabkan anemia aplastik.Namun, dalam hampir setengah dari individu yang terkena, penyebab penyakit ini diketahui.

Gejala

Gejala-gejala anemia aplastik diproduksi karena rendahnya tingkat sel darah. Sel-sel darah merah tubuh bertanggung jawab untuk membawa oksigen ke bagian tubuh yang berbeda, dan karenanya, penurunan jumlah mereka sangat merusak transportasi normal oksigen. Hal ini menyebabkan banyak gejala seperti kelelahan, sesak napas, kulit pucat dan gusi, pusing, jantung berdebar, nyeri dada. Di sisi lain, penurunan jumlah sel darah putih, mengurangi kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit menular. Oleh karena itu, sering demam dan infeksi yang sangat umum di antara pasien anemia aplastik. Trombosit memainkan peran penting dalam pembekuan darah dan sebagainya, jumlah platelet rendah menghasilkan gejala seperti keterlambatan dalam pembekuan darah, pendarahan hidung, perdarahan gusi dan perdarahan menstruasi berat pada wanita.

Selain itu, individu dengan anemia aplastik mungkin juga mengalami mual dan ruam kulit.

Diagnosa dan Pengobatan

Diagnosis anemia aplastik biasanya dimulai dengan evaluasi keluarga dan riwayat kesehatan individu. Beberapa tes fisik dilakukan, yang meliputi tes darah lengkap untuk menentukan jumlah semua jenis sel darah, dan hitung retikulosit. Hitung retikulosit dilakukan untuk mengukur jumlah sel darah merah muda, dalam rangka untuk menguji apakah sumsum tulang memproduksi cukup sel darah merah baru. Selain itu, tes juga dilakukan untuk memeriksa fungsi tiroid dan tingkat vitamin B12 dan asam folat, untuk mengecualikan anemia disebabkan oleh kekurangan vitamin ini. X-ray, CT scan dan USG dilakukan untuk mencari pembesaran kelenjar getah bening di perut, yang merupakan indikasi dari kanker darah. Tes definitif untuk diagnosis penyakit yang tepat adalah tes sumsum tulang, yang meliputi aspirasi dan biopsi. Aspirasi biasanya dilakukan untuk mengetahui alasan yang sebenarnya di balik produksi cukup sel darah oleh sumsum tulang.

Pengobatan untuk penyakit ini umumnya mencakup obat-obatan, transplantasi sumsum tulang dan transfusi darah. Jika disebabkan oleh gangguan sistem kekebalan tubuh, obat-obat penekan imun digunakan kemudian. Namun, dalam kasus yang parah, transplantasi sumsum tulang diperlukan. Transfusi darah juga diperlukan sebagai tingkat sel darah sangat rendah, pada pasien anemia plastik. Perawatan ini dapat mengurangi gejala dan memperpanjang masa hidup seorang individu menderita anemia aplastik. Namun, kesembuhan yang permanen mungkin dalam kasus transplantasi sumsum tulang berhasil.

Anemia aplastik adalah penyakit langka, tapi mengancam jiwa. Jika tidak diobati tepat waktu, itu dapat menyebabkan kematian individu dalam waktu singkat hanya enam bulan. Namun, diagnosis dini dan pengobatan yang tepat secara signifikan dapat meningkatkan kemungkinan meningkatkan tingkat hidupnya sampai beberapa tahun

Daftar Pustraka

1.   Sadikin Muhamad, 2002, Biokimia Darah, widia medika, jakarta

2.   http://www.majalah-farmacia.com

3.   http://www.pediatrik.com

4.   Sylvia A. Price Lorraine M. Wilson, 2002, Patofisiologi, Jilid1, EGC, Jakarta